MAKALAH JARIMAH MENUDUH ZINA (QADZAF)
Diajukan untuk memenuhi salahsatu tugas mata pelajaran Fiqih
Guru Mapel
: ……………………………….
Oleh :
1.
……………………
2.
……………………
3.
……………………
4.
……………………
DEPARTEMEN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI 4 GARUT
TAHUN PELAJARAN 2017-2018
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat
dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah
ini. Kami sampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada Guru Mapel Fiqih. dan
semua pihak yang turut membantu proses penyusunan makalah ini.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini
masih begitu banyak kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan baik dari
isinya maupun struktur penulisannya, oleh karena itu kami sangat mengharap
kritik dan saran positif untuk perbaikan dikemudian hari.
Demikian semoga makalah ini memberikan manfaat
umumnya pada para pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri. Aamiin.
Cisewu,
………..2017
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar
………………………………………………..............................
Daftar Isi ………………………………………………………...........................
Bab I. Pendahuluan
…………………………………………..............................
Bab II. Pembahasan
…………………………………………..............................
Bab III. Penutup ……………………………………………….
..........................
Daftar Pustaka ………………………………………………..............................
BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar Belakang
Persoalan menuduh seseorang sebagai
pemerkosa atau penzina adalah kesalahan yang serius dalam Islam. Malahan Islam
membuat kehormatan pada salah satu dari lima kebutuhan dasar yang mesti dijaga
dalam Islam. Manakala sesuatu tuduhan zina pada seseorang tanpa barang bukti
adalah salah satu dari tujuh dosa besar. Hal ini disebutkan dalam al-Qur’an
surat an-nur ayat 23.
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ
ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا
وَٱلۡأٓخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٢٣
Artinya:
“Sesungguhnya
orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman
(berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab
yang besar”. (QS. An-Nuur: 23)
Berkaitan dengan perbuatan ini, Nabi
Muhammad s.a.w. bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh
Bukhori dan Muslim juga agar kaum muslimin sangat berhati-hati dalam
melemparkan tuduhan keji atau tuduhan zina. Sehingga hukum hududpun seharusnya
ditinggalkan tanpa adanya bukti dan saksi yang sah “Tinggalkan hudud karena
perkara-perkara yang syubhat atau yang masih samar-samar”.
B . Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
Definisi Qazaf.?
2.
Bagaimana Dasar
Hukum Dalam Qazaf?
3.
Apa Hadits
Tenatang Jarimah Qazaf (Narjih Hadits).?
4.
Bagaimana
Asbabul Wurud-Nya.?
5.
Bagaimana
Pembuktian Untuk Jarimah Qadzaf.?
6.
Apakah Hukuman
Untuk Jarimah Qadzaf.?
7.
Bagaiman
Pendapat Para Ulama Tentang Menuduh Zina (Qazaf).?
C. Tujuan
1.
Untuk
Mengatehui Bagaiman Definisi Qazaf.!
2.
Untuk
Mengetahui Apa Dasar Hukum Dalam Qazaf.!
3.
Untuk
Mengetahui Bagaiman Hadits Tentang Jarimah Qazaf (Narjih Hadits) .!
4.
Untuk
Mengetahui Bagaimana Asbabul Wurud-Nya.!
5.
Untuk
Mengetahui Bagaimana Pembuktian Untuk Jarimah Qadzaf.!
6.
Untuk
Mengetahui Apakah Hukuman Untuk Jarimah Qadzaf.!
7.
Untuk
Mengetahui Bagaiman Pendapat Para Ulama Tentang Menuduh Zina (Qazaf).!
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI QAZAF
Qadzaf dalam arti bahsa adalah الر مي بالحجارة
ونحوها artinya melempar
dengan batu dan lainnya.Menurut hukum islam, ada dua jenis qazaf, yaitu, qazaf
yang pelakunya wajib dijatuhi hukuman hudud dan qazaf yang pelakunya wajib
dijatuhi hukuman takzir. Qazaf yang pelakunya wajib dijatuhi hukuman hudud
adalah menuduh orang baik-baik (muhsan) berzina atau menafikan nasabnya.
“Menuduh orang yang muhshan dengan tuduhan berbuat zina atau dengan tuduhan
yang menghilangkan nasabnya”.
Adapun qazaf yang pelakunya harus
dijatuhi hukuman takzir adalah menuduh oarang muhsan atau bukan muhsan dengan
selai zina dan menafikan sabnya. Mencaci dan mengufat hukumnya sama dengan
qazaf dan pelakunya harus dijatuhi hukuman takzir. Abdurahman Al-Jazini
mengatakan “Qadzaf adalah suatu ungkapan tentang penuduhan seseorang kepada
orang lain dengan tuduhan zian, baik dengan menggunakan lafaz yang sharih
(tegas) atau secara dilalah (tidak jelas)”.
B. DASAR HUKUM
QAZAF DALM AL-QUR’AN.
Hukuman bagi orang yang menuduh orang lain berbuat zina
adalah didera sebanyak 80 kali, Jika yang menuduh orang
merdeka. Sebagaimana firman Allah :
Surat An-nuur: 4
وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ
ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ
وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤
Artinya:
“Dan
orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka
tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat
selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-nuur: 4)
Surat An-nuur ayat 13
لَّوۡلَا
جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ
فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ١٣
Artinya:
“Mengapa
mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita
bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka
itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. (QS. An-nuur: 13)
Surat An-nuur ayat 23
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ
ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا
وَٱلۡأٓخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٢٣
Artinya:
“Sesungguhnya
orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman
(berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab
yang besar (QS. An-nuur: 23)
C.
HADIST TENTANG JARIMAH MENUDUH ZINA
(QODZAF)
Hadist
Pertama.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي
عَدِيٍّ عَنْ هِشَامٍ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا
أَنَّ هِلَالَ بْنَ أُمَيَّةَ قَذَفَ امْرَأَتَهُ عِنْدَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرِيكِ ابْنِ سَحْمَاءَ فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيِّنَةُ أَوْ حَدٌّ فِي
ظَهْرِكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا رَأَى أَحَدُنَا عَلَى امْرَأَتِهِ
رَجُلًا يَنْطَلِقُ يَلْتَمِسُ الْبَيِّنَةَ فَجَعَلَ يَقُولُ الْبَيِّنَةَ
وَإِلَّا حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ فَذَكَرَ حَدِيثَ اللِّعَانِ
(BUKHARI - 2475) : Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi 'Adiy
dari Hisyam telah menceritakan kepada kami 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas
radliallahu 'anhuma bahwa Hilal bin Umayyah menuduh isterinya berbuat serong
(selingkuh) dengan Syarik bin Sahma' di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apakah kamu
punya bukti atau punggungmu dipukul?" Maka dia berkata: "Wahai Rasulullah, bila seorang dari
kami melihat ada seorang laki-laki bersama isterinya, apakah dia harus mencari
bukti?" Beliau kontan mengatakan 'Harus ada bukti, punggungmu harus didera
(atas tuduhan ini). Lalu diceritakanlah tentang hadits Li'an (saling melaknat
antara yang menuduh dengan yang dituduh).
Hadist
Kedu.
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ هِلَالَ بْنَ أُمَيَّةَ قَذَفَ
امْرَأَتَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرِيكِ ابْنِ
سَحْمَاءَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيِّنَةَ
أَوْ حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا رَأَى أَحَدُنَا عَلَى
امْرَأَتِهِ رَجُلًا يَنْطَلِقُ يَلْتَمِسُ الْبَيِّنَةَ فَجَعَلَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْبَيِّنَةَ وَإِلَّا حَدٌّ فِي
ظَهْرِكَ فَقَالَ هِلَالٌ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنِّي لَصَادِقٌ
فَلَيُنْزِلَنَّ اللَّهُ مَا يُبَرِّئُ ظَهْرِي مِنْ الْحَدِّ فَنَزَلَ جِبْرِيلُ
وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ
{ وَالَّذِينَ
يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ إِنْ كَانَ مِنْ الصَّادِقِينَ }
فَانْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَجَاءَ هِلَالٌ فَشَهِدَ
وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ
أَنَّ أَحَدَكُمَا كَاذِبٌ فَهَلْ مِنْكُمَا تَائِبٌ ثُمَّ قَامَتْ فَشَهِدَتْ
فَلَمَّا كَانَتْ عِنْدَ الْخَامِسَةِ وَقَّفُوهَا وَقَالُوا إِنَّهَا مُوجِبَةٌ
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَتَلَكَّأَتْ وَنَكَصَتْ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهَا تَرْجِعُ
ثُمَّ قَالَتْ لَا أَفْضَحُ قَوْمِي سَائِرَ الْيَوْمِ فَمَضَتْ فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصِرُوهَا فَإِنْ جَاءَتْ بِهِ
أَكْحَلَ الْعَيْنَيْنِ سَابِغَ الْأَلْيَتَيْنِ خَدَلَّجَ السَّاقَيْنِ فَهُوَ
لِشَرِيكِ ابْنِ سَحْمَاءَ فَجَاءَتْ بِهِ كَذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْلَا مَا مَضَى مِنْ كِتَابِ اللَّهِ لَكَانَ لِي
وَلَهَا شَأْنٌ
(BUKHARI
- 4378) : Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar Telah menceritakan
kepada kami Ibnu Abu 'Adi dari Hisyam bin Hassan Telah menceritakan kepada kami
'Ikrimah dia berkata; Rasulullah Ibnu 'Abbas bahwa Hilal bin Umayyah menuduh
istrinya melakukan zina dengan Syarik bin Samha dan membawa persoalan
tersebut kehadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. maka Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: 'Bawalah bukti yang menguatkan (empat orang saksi)
atau kamu akan dihukum cambuk dipunggungmu. Hilal berkata; Ya Rasulullah, jika salah seorang dari kita
melihat seorang laki-laki lain bersama istrinya, haruskah ia mencari saksi?
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Bawalah bukti yang menguatkan
(empat orang saksi) atau kamu yang akan dihukum cambuk dipunggungmu. Hilal
kemudian berkata; Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku berkata benar
dan Allah akan mewahyukan kepadamu yang menyelamatkan punggungku dari hukuman
cambuk. Maka Jibril turun menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam Dan merekalah yang menuduh para istrinya…. (An Nuur; 6-9).
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membacanya hingga sampai bagian Jika suaminya
itu termasuk orang-orang yang benar. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
ia pergi menjemput istrinya. Hilal pulang dan kembali dengan membawa istrinya.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah tahu bahwa salah
seorang dari kalian berdusta, jadi siapa diantara kalian yang akan bertaubat?
Kemudian istri Hilal bangun dan bersumpah dan ketika ia akan mengucapkan sumpah
yang kelima, mereka menghentikannya dan berkata; Sumpah kelima itu akan membawa
laknat kepadamu (jika kamu bersalah). Ia pun tampak ragu melakukannya sehingga
kami berfikir bahwa ia akan menyerah. Namun kemudian istri Hilal berkata; Aku
tidak akan menjatuhkan kehormatan keluargaku, dan melanjutkan mengambil sumpah.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian berkata; Perhatikan ia. Jika ia
melahirkan seorang bayi dengan mata hitam, berpantat besar, dan kaki yang
gemuk, maka bayi itu adalah anak Syarik bin Samha. Di kemudian hari ia
melahirkan bayi yang ciri-cirinya seperti yang digambarkan Nabi shallallahu
'alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika
persoalan ini tidak diputuskan Allah terlebih dahulu, maka tentu aku akan
menjatuhkan hukuman yang berat terhadapnya."
Hadits ke Tiga
و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي
شَيْبَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ غَزْوَانَ قَالَ
سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي نُعْمٍ حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَذَفَ مَمْلُوكَهُ بِالزِّنَا يُقَامُ عَلَيْهِ الْحَدُّ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ كَمَا قَالَ
و حَدَّثَنَاه أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ يُوسُفَ
الْأَزْرَقُ كِلَاهُمَا عَنْ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوَانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَفِي
حَدِيثِهِمَا سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
نَبِيَّ التَّوْبَةِ
(MUSLIM - 3138) : Telah menceritakan
kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu
Numair. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad
bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku telah
menceritakan kepada kami Fudlail bin Ghazwan dia berkata; aku mendengar
Abdurrahman bin Abu Nu'm telah menceritakan kepadaku Abu Hurairah dia berkata,
"Abu Qasim shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Barangsiapa
menuduh seorang budak berbuat zina, maka dia akan dikenakan had (hukuman
setimpal) pada hari Kiamat, kecuali jika tuduhannya benar." Dan telah
menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Waki'.
(dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb Telah
menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf Al Azraq keduanya dari Fudlail bi
Ghazwan dengan sanad ini. Dan dalam hadits keduanya disebutkan, "Aku
pernah mendengar Abu Qasim shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu Nabi yang
menyukai taubat."
D. ASBABUWURUD
Bahwa Hilal bin Umayyah menuduh
istrinya melakukan zina dengan Syarik bin Samha dan membawa persoalan
tersebut kehadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. maka Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: 'Bawalah bukti yang menguatkan (empat orang saksi)
atau kamu akan dihukum cambuk dipunggungmu. Hilal berkata; Ya Rasulullah, jika salah seorang dari kita
melihat seorang laki-laki lain bersama istrinya, haruskah ia mencari saksi?
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Bawalah bukti yang menguatkan
(empat orang saksi) atau kamu yang akan dihukum cambuk dipunggungmu. Hilal
kemudian berkata; Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku berkata benar
dan Allah akan mewahyukan kepadamu yang menyelamatkan punggungku dari hukuman
cambuk. Maka Jibril turun menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam Dan merekalah yang menuduh para istrinya…. (An Nuur; 6-9).
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membacanya hingga sampai bagian Jika suaminya
itu termasuk orang-orang yang benar. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
ia pergi menjemput istrinya. Hilal pulang dan kembali dengan membawa istrinya.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah tahu bahwa salah
seorang dari kalian berdusta, jadi siapa diantara kalian yang akan bertaubat?
Kemudian istri Hilal bangun dan bersumpah dan ketika ia akan mengucapkan sumpah
yang kelima, mereka menghentikannya dan berkata; Sumpah kelima itu akan membawa
laknat kepadamu (jika kamu bersalah). Ia pun tampak ragu melakukannya sehingga
kami berfikir bahwa ia akan menyerah. Namun kemudian istri Hilal berkata; Aku
tidak akan menjatuhkan kehormatan keluargaku, dan melanjutkan mengambil sumpah.
a) Poin-Poin
Kandungan Makna Dari Hadits
Unsur-unsur qadzaf ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:
1. Adanya tuduhan
zina atau menghilangkan nasab. Unsur ini dapat terpenuhi apabila pelaku menuduh
korban dengan tuduhan melakukan zina atau tuduhan yang menghilangkan nasabnya,
dan ia (pelaku penuduh) tidak mampu membuktikan yang dituduhkannya.
2. Orang yang
dituduh harus orang muhshan. Dasar hukum tentang syarat ihsan untuk maqzuf.
(orang yang tertuduh) adalah:
Surat An-nuur: 23
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ
ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا
وَٱلۡأٓخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٢٣
Artinya:
“Sesungguhnya
orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman
(berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab
yang besar”. (QS.An-nuur:23)
3. Adanya niat
melawan hukumUnsur melawan hukum dalam jarimah qadzaf dapat terpenuhi apabila
seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan zina atau menghilangkan nasabnya,
padahal ia tahu bahwa apa yang dituduhkannya tidak benar. Dan seseorang
dianggap mengetahui ketidakbenaran tuduhan apabila ia tidak mampu membuktikan
kebenaran tuduhannya. Ketentuan ini didasarkan kepada ucapan Rasulullah saw.
Kepada Hilal ibn Umayyah ketia ia menuduh istrinya berzina dengan Syarik ibn
Sahma’:
“Datanglah saksi, apabila tidak bisa
mendatangkan saksi maka hukuman had akan dikenakan kepada kamu” (Diriwayatkan
oleh Abu Ya’ la)
Atas dasar inilah jumhur fuqaha
berpendapat bahwa apabila saksi dalam jarimah zina kurang dari empat orang maka
mereka dikenai hukuman had sebagai penuduh, walaupun menurut sebagian yang lain
mereka tidak dikenai hukuman had, selama mereka betul-betul bertindak sebagai
saksi
E. PEMBUKTIAN
UNTUK JARIMAH QADZAF
1. Persaksian
Persaksian Jarimah Qadzaf dapat
dibuktikan dengan persaksian dan persyaratan persaksian dalam masalah qadzaf
sama dengan persyaratan persaksian dalam kasus zina.
Bagi orang yang menuduh zina itu dapat mengambil beberapa
kemungkinan, yaitu:
a. Memungkiri
tuduhan itu dengan mengajukan persaksian cukup satu orang laki-laki atau
perempuan.
b. Membuktikan
bahwa yang dituduh mengakui kebenaran tuduhan dan untuk ini cukup dua orang
laki-laki atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan.
c. Membuktikan
kebenaran tuduhan secara penuh dengan mangajukan empat orang saksi.
d. Bila yang
dituduh itu istrinya dan ia menolak tuduhannya maka suami yang menuduh itu
dapat mengajukan sumpah li’an.
2.
pengakuan
Pengakuan Yakni si penuduh mengakui bahwa
telah malakukan tuduhan zina kepada seseorang. Menurut sebagian ulama,
kesaksian terhadap orang yang melakukan zina harus jelas, seperti masuknya
ember ke dalam sumur (kadukhulid dalwi ilal bi’ri). Ini menunjukkan bahwa
jarimah ini sebagai jarimah yang berat seberat derita yang akan ditimpahkan
bagi tertuduh, seandainya tuduhan itu mengandung kebenaran yang martabat dan
harga diri seserang. Para hakim dalam hal ini dituntut untuk ekstra hati-hati
dalam menanganinya, baik terhadap penuduh maupun tertuduh. Kesalahan berindak
dalam menanganinya akan berakibat sesuatu yang tak terbayangkan.
3.
Sumpah
Dengan Sumpah Menurut Imam Syafi’i
jarimah qadzaf bisa dibuktikan dengan sumpah apabila tidak ada saksi dan
pengakuan. Caranya adalah orang yang dituduh (korban) meminta kepada orang
menuduh (pelaku) untuk bersumapah bahwa ia tidak melakukan penuduhan. Apabila
penuduh enggan untuk bersumpah maka jarimah qadzaf bisa dibuktikan dengan
keengganannya untuk sumpah tersebut. Demikian pula sebaliknya, penuduh (pelaku)
bisa meminta kepada orang yang dituduh (korban) bahwa penuduh benar malakukan
penuduhan. Apabila orang yang dituduh enggan melakukan sumpah maka tuduhan
dianggap benar dan penuduh dibebaskan dari hukuman had qadzaf. Akan tetapi Imam
Malik dan Imam Ahmad tidak membenarkan pembuktian dengan sumpah, sebagaimana
yang di kemukakan oleh madzhab Syafi’i. sebagian ulama Hanafiyah pendapatnya
sama dengan madzhab Syafi’i.
F. HUKUMAN UNTUK
JARIMAH QADZAF
Hukuman untuk jarimah qadzaf ada dua macam, yaitu sebagai
berikut.
1.
Hukuman pokok,
yaitu jilid atau dera sebanyak delapan puluh kali, hukuman ini merupakan
hukuman had, yaitu hukuman yang sudah ditetapkan oleh syara, sehingga ulil amri
tidak mempunyai hak untuk memberikan pengampunan. Adapun bagi orang yang
dituduh, para ulama berbeda pendapat. Menurut mazhab Syafii, orang yang dituduh
berhak memberikan pengampunan, karena hak manusia lebih dominan dari pada hak
Allah. Sedangkan menurut mazhab Hanafi bahwa korban tidak berhak memberikan
pengampunan, karena di dalam jarimah qadzaf hak Allah lebih dominan dari pada
hak manusia.
2.
Hukuman
tambahan, yaitu tidak diterima persaksiannya
Kedua macam hukuman tersebut didasarkan
kepada firman Allah dalam Surah An-Nuur ayat :4
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita
yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi,
maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah
kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang
yang fasik. (QS. An-nuur: 4)
G. PENDAPAT PARA
ULAMA TENTANG MENUDUH ZINA (QAZAF)
Hukum islam menganggap setiap perbuatan
menyakiti orang lain tanpa alasan yang syar’i ssebagai tindak pidana yang harus
dikenakan hukuman. Dan apabila dalam suatu tuduhan itu tidak ada bukti yang
nyata dalam tuduhannya dan tidak mendatangkan empat saksi maka hukumannya
adalah dirajam atau didera 80 kali.
Masalah ini diperselisihkan para ulama:
Dua Imam madzhab; Abu Hanifah dan Imam Malik memandang bahwa orang yang
menuduh laki-laki lain berzina dengan isterinya, maka ia harus mengajukan bukti
atas hal itu, sebab bila tidak, maka ia dikenakan hukuman Hadd. Alasannya,
karena hal itu merupakan tuduhan berzina terhadap orang yang seharusnya tidak
perlu dituduh sehingga ia berada dalam posisi hukum asal Hadd Qadzf.
Ibn al-‘Arabi berkata, “Inilah makna
zhahir dari al-Qur’an sebab Allah SWT meletakkan hukum Hadd bagi tuduhan
berzina terhadap orang asing dan isteri secara mutlak, kemudian Dia
mengkhususkan bagi isteri agar terhindar darinya dengan cara Li’an. Dengn begitu, makna mutlak ayat
tersebut hanya terarah kepada orang asing itu.
Sementara dua Imam madzhab lagi; imam
asy-Syafi’i dan Ahmad memandang bahwa bila suami menuduh isterinya berzina
dengan laki-laki tertentu, kemudian ia melakukan Li’an, maka telah gugur
atasnya Hadd dan jatuh kepada isterinya. Siapa yang menuduhnya
(isterinya) berzina, maka dia harus menyebutkannya dalam Li’an atau
tidak menyebutnya sebab Li’an membutuhkan bukti dari salah satu dari
kedua belah pihak, sehingga ia menjadi bukti pada pihak yang lain seperti
kedudukan persaksian. Jika suami tidak melakukan Li’an, maka bagi
masing-masing dari suami dan laki-laki yang dituduh berzina dengan isterinya
itu harus menuntut dilakukannya Hadd; siapa saja di antara keduanya yang
meminta, maka ia sendiri yang dihukum Hadd dan tidak dapat dikenakan
kepada yang belum memintanya.
H. PENDAPAT PENULIS
Menuduh orang lain berbuat zina (Qazaf)
merupakan perbuatan yang sangat tercela karna dapat membuat oranglain merasa
dirugikan dan diganggu ketentraman dalam hidupnya. Perbuatan menuduh zuna
kepada orang yang telah mempunyai suami (Muhsan) haruslah mendatangkan saksi,
empat saksi yang harus di hadirkan apabila dalam tuduhannya itu benar. Jika
dalam tuduhannya itu ia tidak bisa mendatangkan empat saksi maka ia haruslah di
hukum Hudud yaitu didera 80 kali (dicambuk).
Dari itu hindarilah untuk berbuar Qazaf, apabila tidak
ada bukti yang dapat di datangakan. Karna oranga yang menuduh qazaf itu
selamanya tidak dapat diterima kesaksiannya, dan Allah melaknat orang yang
melakukan qazaf.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa: Hukuman untuk jarimah qadzaf ada dua macam, yaitu sebagai
berikut.Hukuman pokok, yaitu jilid atau dera sebanyak delapan puluh kali,
hukuman ini merupakan hukuman had, yaitu hukuman yang sudah ditetapkan oleh
syara, sehingga ulil amri tidak mempunyai hak untuk memberikan pengampunan.
Adapun bagi orang yang dituduh, para ulama berbeda pendapat. Menurut mazhab
Syafii, orang yang dituduh berhak memberikan pengampunan, karena hak manusia
lebih dominan dari pada hak Allah. Sedangkan menurut mazhab Hanafi bahwa korban
tidak berhak memberikan pengampunan, karena di dalam jarimah qadzaf hak Allah
lebih dominan dari pada hak manusia.
Hukuman tambahan, yaitu tidak diterima
persaksiannya Sedangkan pembuktiannya untuk jarimah qadzaf adalah dengan saksi,
pengakuan, dan sumpah.
Demikianlah makalah yang dapat penulis
susun, tentunya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang
membangun sangatlah diharapkan penulis untuk memperbaiki makalah ini. Penulis
juga minta maaf apabila ada penulisan atau ulasan yang salah atau kurang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
At- Tasyri’ al-jina’i al-Islamiy Muqaranan Bil Qonunil
Wad’iy Abdul Qodir Audah. ENSIKLOPEDI
HUKUM PIDANA ISLAM. V.
Lidwa
Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist
No comments:
Post a Comment