Kumpulan Makalah Terlengkap, Tutorial Dapodik, Tutorial PMP, Perangkat Pembelajaran Kurikulum KTSP 2006 Dan KTSP 2013 SD

Search

Showing posts with label SKI. Show all posts
Showing posts with label SKI. Show all posts

Thursday, January 10, 2019

Tradisi Saparan Di Desa Krendegan, (Lereng Sumbing) Magelang Dan Perayaan Yaaqowiyuu Di Jatinom, Klaten


Tradisi Saparan Di Desa Krendegan, (Lereng Sumbing) Magelang
Dan Perayaan Yaaqowiyuu Di Jatinom, Klaten

  Diajukan untuk memenuhi  salah satu tugas mata pelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam

 

  









Di Susun Oleh :

Alviana Candra Winata
Kelas IX - E



PEMERINTAH KABUPATEN GARUT
DEPARTEMEN AGAMA
 MTsN 3 GARUT
                                                                       2016





KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Tradisi Saparan Di Desa Krendegan, (Lereng Sumbing) Magelang Dan Perayaan Yaaqowiyuu Di Jatinim , Klaten “. Kami menyadari bahwa karya tulis ini belum maksimal dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap masukan, kritikan dan saran para pembaca untuk kesempurnaan karya tulis ini.
Akhirnya, semoga amal baik semua pihak diterima oleh Allah dan mendapatkan balasan darinya dengan pahala yang setimpal dan semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kami dan juga bagi pembaca sekalian.Amin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

                                                                          Garut, .....................2016
                                                                                     
  Penyusun 





DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………..............................i
Daftar Isi ………………………………………………………...........................ii
Bab I. Pendahuluan  …………………………………………..............................1
Bab II. Pembahasan  …………………………………………..............................4
Bab III. Penutup ………………………………………………. .........................14
Daftar Pustaka  ……………………………………………….............................15



BAB I
PENDAHULUAN

            Islam datang ke wilayah Magelang sebenarnya sudah lama, bahkan jauh sebelum Wali Songo datang, Islam di Tanah Jawa khususnya Magelang sudah ada tokoh yang menyebarkan Islam. Magelang berada di tengah-tengah pulau Jawa, baik ke  arah timur, maupun arah barat, begitu ke utara maupun ke selatan. Di tengah-tengah itu ada sebuah gunung kecil yang bernama gunung Tidar. Menurut cerita tempat itulah pertama kali seorang Muslim memijakkan kakinya di tanah Jawa dan beliau juga di makamkan di sana.
            Kota Magelang dikelilingi banyak gunung, dan masing-masing warga di sekitar gunung tersebut mempunyai tradisi untuk merasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu tradisi saparan yang berada di desa Krandegan dan dilaksanakan setiap setahun sekali. Dan, untuk kesempatan kali ini penulis akan menjelaskan apa itu saparan.
        Bulan Sofar atau lebih dikenal dengan bulan Sapar bagi masyarakat Indonesia khususnya orang Jawa, adalah bulan ke dua dalam penanggalan tahun hijriyah. Di berbagai daerah di pulau Jawa banyak sekali tradisi yang dilaksanakan di bulan sapar ini. Sebut saja saparan di sekitar lereng gunung Sumbing. Dari berbagai daerah yang melaksanakan tradisi saparan ini masing-masing mempunyai maksud dan tujuan yang hampir sama antara satu daerah dengan daerah lainnya. Namun secara umum maksud dan tujuan dari pelaksanaan tradisi saparan ini adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa diberi keselamatan dalam    mengarungikehidupanini.
         Entah kapan dan siapa yang memulai tradisi saparan ini, tetapi tradisi saparan rutin dilaksanakan setiap tahunnya,. Namun demikian, di beberapa desa di daerah ini pelaksanaan tradisi saparan tidak lengkap bila tidak menggelar aneka pagelaran kesenian tradisional. Salah satu kesenian tradisional yang seakan-akan wajib dilaksanakan di beberapa desa adalah pagelaran kesenian, missal tari Tayub,lengger,kudalumpingdanlain-lain.
Sebagai simbol pelaksanaan saparan ini, pada hari yang telah ditetapkan di masing masing desa, dilaksanakan kenduri bersama. Biasanya pelaksanaan kenduri ini dilaksanakan dirumah kepala dusun masing-masing yang dihadiri warga dusun tersebut. Perlengkapan yang dibawa dalam kenduri ini terdiri dari nasi tumpeng, satu ekor ayam ( mereka menyebutnya ingkung ayam), buah-buahan, dan beberapa lauk pauk lainnya serta beberapa makanan ringan. Setelah mereka berkumpul di rumah kepala dusun maka sesepuh kampung atau tokoh agama akan memberikan sedikit wejangan dan dilanjutkan doa bersama yang dipimpin tokoh agama tersebut. Setelah doa bersama beberapa petugas mengambil sebagian dari  kenduri yang dibawa para warga. Hasil dari penarikan ini biasanya akan digunakan sebagai konsumsi dalam pelaksanaan pagelarankeseniantradisional.
                    Bulan sapar bagi sebagian warga merupakan bulan yang dinanti-nanti. Sebagian anak-anak (bahkan juga orang dewasa) menyebutnya sebagai bulan penuh gizi. Betapa tidak, karena di bulan sapar, sudah menjadi tradisi mereka saling berkunjung. Salahsatu rangkaian pelaksanaan tradisi saparan di daerah ini adalah saling mengundang. Biasanya yang diundang adalah saudara dekat, teman, kenalan sampai relasi bisnisnya. Waktu pelaksanaan saparan yang berbeda antara desa yang satu dengan yang lainnya, memungkin mereka saling berkunjung. Bahkan tidak jarang mereka juga mengundang saudara atau rekan dari luar kota. Bagi sebagian warga yang sedang merantau diluar kota juga menyempatkan untuk pulang kampung sekedar merayakan saparan ini.
            Fokus penelitian ini adalah masyarakat sekitar desa Krandegan dan sekitarnya tentang tradisi saparan. Disebabkan daerah tersebut cukup unik dalam hal pelaksanaan yang ada di dalamnya. Mereka tidak begitu menghiraukan tradisi saparan tersebut apakah sesuai atau tidak bahkan apakah ada hubungannya apabila dikaitkan dengan Islam, Inilah perhatiannya.
             Penyebaran islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek kejawen sebagai jalur penyebarannya. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran islam di Tanah Jawa.  Walaupun di Magelang jauh sebelum Wali Songo sudah ada yang menyebarkan agama Islam, yaitu. Unsur-unsur dalam islam berusaha ditanamkan dalam budaya-budaya jawa semacam pertunjukan wayang kulit, dendangan lagu-lagu jawa , cerita-cerita kuno, hingga upacara-upacara tradisi yang dikembangkan di masyarakat.
            Hal ini sangat dimungkinkan, karena masyarakat Jawa yang menganut budaya tinggi, akan sukar untuk meninggalkan budaya lamanya ke ajaran baru walaupun ajaran tesebut sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih baik,seperti ajaran agama islam .



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Tradisi Saparan Di Desa Krendegan, (Lereng Sumbing) Magelang

         Kecenderungan upacara tradisi saparan di Sumbing  cukup menarik. Karena sebagian warga, khususnya warga masyarakat dusun di lereng tersebut  mengatakan:
’’Sebenarnya acara saparan itu sendiri bagus, tujuannya pun jelas yaitu : Syukuran dusun atau memperingati cikal-bakal adanya dusun istilahnya dalam bahasa jawa (merti dusun), itu juga samahalnya seperti syukuran yang diadakan setiap hari kemerdekaan tanggal 17 agustus. Mungkin yang perlu ditinjau kembali adalah dalam pelaksanaannya’’.
, warga masyarakat masyarakat Krandegan nampaknya mempunyai cara pandang sendiri terhadap tradisi saparan. Mereka memaknainya sebagai atas rasa syukur. Tetapi kita harus mengetahui acara yang ada didalamnya, apakah hanya acara syukuran yang sederhana atau bahkan ada acara-acara yang lain, mungkin bisa dikatakan tak sewajarnya. Untuk lebih jelasnya kita lihat hasil pemaparan dari salah satu tokoh warga masyarakat dusun lereng Sumbing tentang apa saja acara yang ada di dalamnya, yang di ungkapkan oleh tokoh masyarakat:
“Saparan itu memang dari dulu sudah ada sejak zaman nenek moyang, kalau cikal-bakalnya atau pertama kali muncul kurang begitu jelas, entah itu datangnya pada masa transisi dari hindu-budha ke agama islam, sebelum itu atau bahkan sesudah islam menyebar”.
              Mereka juga menambahkan bahwa intinya semua sama yaitu memperingati dusun sebagai atas rasa syukur yang telah diberikan. Mungkin acara yang ada didalamnya, karena masih banyak menggunakan tradisi-tradisi kejawen. Tetapi mereka harus paham jangan asal ikut-ikutan karena dibalik semua itu ada artinya, sebagai contoh acara didalam saparan itu sendiri ada beberapa kegiatan:
1. Sabelum acara saparan dimulai ada ‘nyadran’, yaitu acara bersih-bersih ke makam, itu  tujuannya selain warga bisa berkumpul bersama juga sebagai kebersamaan karena kalau dilakukan sendiri-sendiri akan merasa berat. Nyadran dilakukan karena makam-makam didusun tidak dikasih nisan, hanya sebatang kayu, jadi kalau tidak dibersihkan maka akan tumbuh rumput dan lama kelamaan kalau tidak dibersihkan nanti akan hilang. Acara seperti itu tidak harus, misalkan tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Selang sehari kemudian diadakan pengajian umum yang dilaksanakan pada siang hari setelah waktu Dzuhur.
2. Pada malam hari sebelum acara inti, para warga berkumpul di rumah bapak bayan (dukuh) untuk memanjatkan do’a kepada Yang Maha Esa, di mulai dengan berdo’a bersama acara Sesaji yang didalamnya ada beraneka macam makanan dan minuman, itu semua mempunyai makna, kata sesaji itu berasal dari kata ‘ngajeni’ yaitu dengan mendatangkan orang-orang untuk ngaji bersama setelah selesai mereka di’ajeni’ atau dijamu dengan makanan-makanan yang ada dalam sesaji tersebut. Jadi sesaji itu bukan dipersembahkan buat makhluk halus, melainkan untuk diri sendiri, kalau misalkan tidak dilakukan akan mendatangkan bahaya, hal seperti itu tidak di benarkan kalau memang demikian justru harus diluruskan.
3. Acara puncak, yaitu, dari keluarga tokoh masyarakat, mendatangkan sanak saudara dan mengundang warga lain yang bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan bisa berkumpul bersama dengan disuguh sebuah kesenian daerah. Acara puncak ini juga dihadiri oleh warga lain desa, kebanyakan mereka bertujuan hanya untuk sekedar cari keramaian
 perlu di tinjau kembali terutama dalam hal penjamuan, karena sangat berlebihan dalam menjamu, hanpir rata-rata satu kepala keluarga bisa menghabiskan uang sebesar satu juta rupiah dalam satu hari, itu akan diraskan begitu beratnya bagi mereka yang bisa dikatakan warga yang kurang mampu dengan harus mengeluarkan dana sebesar itu, mungkin dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka sudah berjuang dengan susah payah, aplagi harus ditambah dengan beban biaya yang lebih berat. Dari pihak yang diundang pun mereka harus bergantian mengundang, apabila di dusunnya ada saparan, itu juga akan menambah beban seperti mempunyai ikatan.
Penulis merasa sangat kekurangan dalam memberikan penjelasan tentang tradisi Saparan diatas, mungkin dengan sedikit hasil memaparkan uraian wawancara dari warga dan hasil dari pengalaman saat bergaul dengan warga mengenai kegiatan tradisi saparan maupun kegiatan yang ada di dalamnya akan bisa menambah pengertian atau wawasan bagi mereka yang melaksanakannya terlebih bagi warga yang hanya ikut-ikutan dan tidak tau makna di dalamnya, karena hal semacam itu akan lebih berbahaya dibanding warga yang melakukan tetapi mengerti makna dan mempunyai tujuan. Sikap seperti ini diperlukan, karena kita bukanlah bangga yang membenarkan diri sendiri belaka, melainkan sanggup menghargai pandapat orang lain, yang terkadang betentangan dengan pendirian kita sendiri. Pandangan ini memang perlu ditekankan karena pluralitas kita sangat tinggi dari sudut agama, budaya, bahasa, adat kebiasaan maupun politik. Ini terbawa oleh pendidikan, letak geografis maupun cara hidup kita yang sangat berbeda dari satu dengan lain.

Hubungan Agama Islam Dengan Tradisi Saparan Berkaitan Dengan Akhlak
Dideda Krandegan pada umumnya, hubungan agama dengan tradisi saparan bisa dikatakan tidak ada, misalnya kalau ada juga tidak terlalu bertentangan dengan islam. Hal ini bisa disimpulkan dari hasil pemaparan warga, bahwa kebanyakan dari mereka mengatakan acara saparan itu warisan nenek moyang yang harus tetap di lestarikan dan tidak ada sangkut-pautnya terhadap agama.
Tetapi yang perlu diperhatikan adalah dalam pelaksanaan seperti yang sudah dipaparkan diatas, jadi akan muncul suatu pertanyaan apakah acara yang ada itu sudah sesuai dengan akhlak? Sedangkan akhlak sendiri mempunyai arti Secara bahasa akhlak berasal dari kata اخلق – يخلق – اخلاقا artinya perangai, kebiasaan, watak, peradaban yang baik. Menurut Istilah: sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melaksanakan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Kenyataan sosial semacam ini adalah tantangan bagi agama-agama, khususnya islam. Agama, menurut klaim penulis, harus mampu berkomunikasi lebih dekat lagi dengan masyarakat, terutama komunitas masyarakat pedesaan, seperti halnya warga masyarakat dusun tersebut tentang tradisi saparan. Jika tradisi saparan masih saja berkukuh dengan pandangannya sendiri, tanpa dikaji kembali melalui agama, karena masyarakat lereng Sumbing adalah 100% islam, dan semuanya adalah warga NU, bukan mustahil mereka akan mengabungkan antara tradisi dan agama dalam acara-acara semacam itu, Inilah tantangan baru agama islam khususnya bagi kaum intelektual muda khususnya warga masyarakat lereng Sumbing.
Prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian tentang perilaku manusia Contohnya, dengan patokan apa dapat dibedakan antara tindakan yang “benar” dan yang “salah” secara moral atau akhlak? Apakah kesenangan merupakan satu-satunya ukuran untuk menentukan sesuatu sebagai yang “baik”? Apakah keputusan moral bersifat sewenang-wenang atau sekehendak hati?
Maksud utama ungkapan moral atau akhlak bukanlah untuk menegaskan bahwa demikianlah persoalan yang ada, melainkan untuk menasehati, mengingatkan, mensyaratkan, menyatakan, atau memprotes bahwa demikianlah yang harus dilakukan. Sesungguhnya tujuan pertama misi diutusnya Nabi adalah kajian akhlak. Nabi SAW Bersabda:“ Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Imam Malik )
2. Upacara Apem Yaawiyuu
Perayaan Yaaqowiyuu di Jatinom, Klaten, banyak dikunjungi puluhan ribu wisatawan lokal dan mancanegara. Mereka berkumpul di lapangan dekat Masjid Besar Jatinom, menunggu acara sebar kue apem yang dilakukan setelah selesai salat Jumat. Untuk tahun ini sebanyak 5 ton kue apem yang diperebutkan para pengunjung.
Menurut kepercayaan orang banyak, apem yaaqowiyuu yang artinya Tuhan mohon kekuatan itu bisa untuk tumbal, tolak bala, atau syarat untuk berbagai tujuan. Bagi petani, bisa untuk tumbal sawah agar tanaman selamat dari segala bencana dan hama penyakit.
Bahkan, ada yang percaya siapa yang mendapat banyak apem pada perebutan itu sebagai tanda akan memperoleh rezeki melimpah. Saking percaya hal itu ada yang kaul (nadar) menggelar wayang kulit, atau pertunjukan tradisional yang lain.
Maka, tak heran jika pada puncak acara peringatan yaaqowiyuu ini pengunjung melimpah yang datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Acara tradisi budaya tersebut digelar untuk mengenang jasa Ki Ageng Gribig, tokoh ulama penyebar agama Islam di Jawa, yang menetap dan meninggal di Jatinom.
Asal muasal kue apem itu dari Mekah yang dibawa Ki Ageng Gribig untuk oleh-oleh anak cucunya. Karena tidak cukup, maka Nyi Ageng Gribig membuat apem lagi sekaligus untuk dibagikan kepada penduduk Jatinom. Sejak itu orang daerah ini ikutan membuat apem untuk selamatan. Perayaan yaqowiyu di Jatinom, diharapkan menjadi salah satu objek wisata menarik di Klaten.
Upacara ini mulai pertama kali berbentuk majelis pengajian yang dikunjungi oleh umat Islam dan masyarakat sekeliling Jatinom. Upacara ini diselenggarakan setiap tahun sekali pada hari Jumat pertengahan bulan Sapar. Adanya Upacara ini dinamakan Yaqowiyu diambil dari doa Kyai Ageng Gribig sebagai penutup pengajian yang berbunyi : Ya qowiyu Yaa Assis qowina wal muslimin, Ya qowiyyu warsuqna wal muslimin, yang artinya : Ya Tuhan berikanlah kekuatan kepada kita segenap kaum muslimin, doa tamu itu dihormati dengan hidangan kue roti, dan ternyata hidangannya kurang, sedang tamunya masih banyak yang belum menerimanya.
Nyai Ageng segera membuat kue apem yang masih dalam keadaan hangat untuk dihidangkan kepada para tamu undangan tersebut. Majelis pengajian ini sampai sekarang setiap tahunnya masih berjalan, yang dilakukan pada malam Jumat dan menjelang sholat Jumat pada pertengahan bulan Sapar, setiap tahunnya Doa Kyai Ageng Gribig itu dibacakan dihadapan hadirin, para pengunjung kemudian menyebutkan Majelis Pengajian itu dengan sebutan nama : ONGKOWIYU yang dimaksudkan JONGKO WAHYU atau mencari wahyu. Kemudian oleh anak turunnya istilah ini dikembalikan pada aslinya yaiut YAQOWIYU.
Sedanng di lokasi ini terdapat juga peninggalan Kyai Ageng Gribig berupa : gua Belan, Sendang Suran, Sendang Plampeyan dan Oro oro Tarwiyah. Disamping itu masih ada satu peninggalan yaitu Masjid Alit atau Masjid Tiban. Perlu kiranya ditambahkan disini bahwa sepulangnya Kyai Ageng Gribig dari Mekah tidak hanya membawa apem saja tetapi juga membawa segenggam tanah dari Oro oro Arofah dan tanah ini ditanamkan di Oro oro Tarwiyah. Adapun Oro oro ini disebut Tarwiyah karena tanah dari Mekah yang ditanam Kyai Ageng Gribig yang berasal dari Padang Arofah ketika beliau sedang mengumpulkan air untuk bekal untuk bekal wukuf di Arofah pada tanggal 8 bulan Dzulhijah. Dari tanggal 8 Dzulhijah ini dinamakan Yaumul Tarwiyah yang artinya pada tanggal itu para jamaah Haji mengumpulkan air sebanyak banyaknya untuk bekal wukuf di Arofah
Tahun ini peringatan tersebut berlangsung hari Kamis (28 Januari 2010) kemarin. Rangkaian acaranya diawali gunungan apem tersebut diarak rombongan orang dari halaman Kantor Kecamatan Jatinom, dengan rute jalan protokol menuju Masjid Alit hingga Masjid Gedhe yang menjadi tempat dimakamkannya Ki Ageng Gribig. Jalur Kirab Gunungan Apem tahun ini lebih panjang daripada jalur tahun sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, Gunungan Apem melintasi Balaikelurahan Jatinom, akan tetapi pada tahun ini kirab, melintasi jalan protokol. Rombongan terdiri atas grup drum band dari SMPN 1 Jatinom, grup reog, jajaran pejabat Pemkab Klaten yang terdiri atas perwakilan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta sejumlah camat yang berpakaian jawa.Sebelum sampai di Masjid Gedhe, kedua gunungan apem mampir sebentar di Masjid Alit. Di masjid ini, rombongan disambut H Sukamto, salah seorang pengurus masjid.
Di masjid ini pula, dibacakan doa yang dipimpin langsung H Sukamto. Dalam doanya, dia berharap Kirab Gunungan Apem membawa berkah bagi semua warga di Jatinom.
Sesampainya di Masjid Gedhe, kegiatan penyerahan gunungan apem kepada keturunan ki Ageng Gribig, keluarga Murtadho Purnomo dilakukan. Penyerahan apem diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Bapak Drs H Indarwanto MM kepada keluarga Murtadho Purnomo. Di masjid inilah, dua buah gunungan itu beristirahat selama semalam.
dengan nyekar ke makam Ki Ageng Gribig dan dilanjutkan dengan pengajian di Masjid Gedhe peninggalan sang kyai pada hari Kamis sebelumnya. Puncak acara dimulai dengan shalat Jumat bersama di Masjid Gedhe. Selesai jumatan, gununganlanang,dikenal dengan nama Ki Kiyat, dan gunungan wadon, dikenal dengan nama Nyi Kiyat, yang telah disemayamkan semalam di dekat masjid, diarak menuruni tangga menuju panggung di lapangan Sendang Plampeyan (tanah lapang di pinggir Kali Soka, di selatan masjid dan makam Ki Ageng Gribig).
Arak-arakan terdiri dari peraga Ki Ageng Gribig, Bapak Bupati H Sunarno SE M.Hum, Muspida, kedua gunungan, putri domas, dan para pengawal. Kemudian peraga Ki Ageng Gribig memimpin doa bersama. Selanjutnya, dia menyerahkan apem yang ditempatkan dalam panjang ilang (keranjang terbuat dari janur) kepada Bupati Klaten. Bupati mengawali upacara penyebaran dengan melempar apem dalam panjang ilang kepada pengunjung. Kemudian, petugas penyebar yang berada di dua menara segera mengikutinya dengan melemparkan ribuan apem. Ribuan pengunjung pun tanpa dikomando berebut apem, bahkan sampai terinjak kakinya atau bertabrakan gara-gara ingin menangkap apem. Suasana rebutan apem benar-benar meriah. Dalam waktu singkat 4 ton apem sumbangan dari para warga sekitar habis tak tersisa.


Makna Kue Apem :
Menurut kepercayaan orang banyak, apem yaaqowiyuu yang artinya Tuhan mohon kekuatan itu bisa untuk tumbal, tolak bala, atau syarat untuk berbagai tujuan. Bagi petani, bisa untuk tumbal sawahnya menjadi subur dan tanaman padi selamat dari segala bencana dan hama penyakit, bagi Pedagang agar supaya dagangannya laris bahkan, ada yang percaya siapa yang mendapat banyak apem pada perebutan itu sebagai tanda akan memperoleh rezeki melimpah.
Sejarah Yaqowiyu
Upacara Yaqowiyu dimulai dari pengajian yang diadakan oleh Kyai Ageng Gribig yang pada saat mengakhiri acara selalu memanjatkan doa “Ya qowiyu Yaa Assis qowina wal muslimin, Ya qowiyyu warsuqna wal muslimin”, untuk memohon kekuatan terhadap kaum muslim. Untuk menghormati para tamu, maka dibuatlah hidangan kue apem dan makanan kecil lainnya. , yang diadakan setiap bulan Jawa pada Safar. Oleh penduduk Jatinom Klaten sering disebut dengan Saparan. Upaca Yaqowiyu ditandai dengan penyebaran kue apem, bahasa arab “affan” yang bermakna ampunan tujuannya agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada sang pencipta. sebuah kue bundar dari tepung beras dengan potongan kelapa ditengahnya. Kue apem disebarkan dari menara masjid. Penyusunan gunungan apem itu juga ada artinya, apem disusun menurun seperti sate 4-2-4-4-3 maksudnya jumlah rakaat dalam shalat isa/ subuh/ zuhur/ ashar/ dan magrib.( menurut sejarah suatu hari di bulan sapar ki ageng gribig yang merupakan keturunan prabu brawijaya kembali dari perjalanannya ke tanah suci ia membawa oleh-oleh 3 buah makanan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai bersama sang istri iapun membuat kue sejenis. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat/ yang berebutan mendapatkannya sambil menyebarkan kue-kue ini iapun meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “tuhan berilah kekuatan” Dipercayakan kue apem ini mempunyai kekuatan supranatural yang membawa kesejahteraan bagi yang berhasil mendapatkannya. Perayaan yang dipusatkan di kompleks makam Kyai Ageng Gribig ini biasanya dihadiri Bupati beserta pejabat Kabupaten Klaten agar lebih meramaikan suasana dan mendekatkan diri kepada rakyat.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Magelang adalah merupakan daerah tertua di Indonesia, bayangkan saja pada tahun 2013 ini umurnya sudah mencapai 1.107 tahun. Agama Islam di Indonesia dibawa oleh para kekasih Allah, keberhasialan mereka dalam menyebarkan agama Islam karena mereka pandai membaca situasi dan kondisi yaitu menyesuaikan kebudayaan dan tradisi yang ada di tanah Jawa khususnya Magelang dan sekitranya. Terlebih di daerah Krandegan sendiri mereka tidak menghilangkan sama sekali tradisi yang sudah ada, hanya saja ditambahi atau dimodifikasi, yang dulunya tidak ada unsur nilai Islamnya sekarang ditambahi dengan nilai-nilai Islam.
            Salah satunya adalah tradisi Saparan yang terdapat di desa tersebut, selain sebagai ajang silaturahim, bulan ini juga dijadikan sebagai bulan untuk memperingati cikal-bakal desa tersebut, biasanya saparan dilakukan satu bulan penuh, bergiliran dari satu desa ke desa yang lain, waktu pelaksanaannya malam hari, sebelum acara puncak dimulai pada siangnya dilakukan acara pengajian umum sebagai bukti itu adalah bahwa saparan itu sudah di sisipi oleh nilai-nilai keagamaan.


DAFTAR PUSTAKA

Idianto. M. 2004. Sosiologi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Indah Sri Rahayu. 2005. “Upacara saparan “Yaqowiyyu” (Sudut Kebudayaan dan Religi) di Desa Jatinom, Kec. Jatinom, Kab. Klaten, Jawa Tengah”. Tugas Akhir Semester I. Surakarta: Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret.
P3KAG. 2008. Perayaan Tradisionil Yaqowiyyu Jatinom Klaten.
Anonim. Upacara YaQowiyyu Sebar 4,5 Ton Kue Apem. (online



Upacara Saparan “Yaqowiyyu”


Upacara Saparan “Yaqowiyyu”

Diajukan untuk memenuhi  salah satu tugas mata pelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam


 








  

Di Susun Oleh :

Fitri Sundadari
Kelas IX - E



PEMERINTAH KABUPATEN GARUT
DEPARTEMEN AGAMA
 MTsN 1 CISEWU
                                                             2016






A.    Asal-usul Cerita Rakyat Kyai Ageng Gribig

Kyai Ageng Gribig yang bernama asli Wasibagno Timur, merupakan keturunan Prabu Brawijaya ke-5 dari Majapahit. Ia adalah seorang ulama besar yang memperjuangkan Islam di pulau Jawa, tepatnya di desa Jatinom Klaten. Misinya adalah mengemban dawuh dari pendahulu tokoh utama atau dari kalangan walisongo, tujuannya meninggalkan dari kerajaan adalah ingin mengemban dakwah Islam dan juga mempunyai keinginan menjunjung tinggi Bangsa dan Negara.
Kyai Ageng Gribig munajat kepada Allah, Kyai Ageng Gribig tahan dan kuat bersemedi, maka terkabulah permohonannya dan mendapatkan ilham yang jelas dalam pendengarannya. Turunlah atau berhentilah lalu ia dari persemediannya, lalu petunjuk atau ilham yang diterima itu dilaksanakan. Petunjuk itu berbunyi ” sirolumakuwa saka girikene ngulana aja pati-pati sira, pegat anggonmu lumaku lamun during tinemu uwit jati sak loran kang ana ereng-ereng merapi”, yang artinya berjalanlah anda dari Giri berjalan ke barat anda jangan sekali-kali berhenti apabila belum menemukan pohon jati (dua pohon jati) dilereng gunung Merapi (Jatinom sekarang). Setelah mendapat petunjuk itu dia menjalankan, menemukan pohon jati yang masih muda dan yang sangat tinggi, setelah didekati hilang. Akhirnya salah satu pengikut memberi petunjuk cobalahKyai menika sitinipun radi inggil yang artinya Kyai, tanahnya itupun agak tinggi, setelah beliau melihat dari tanah yang lebih tinggi, ternyata pohon tersebut kelihatan mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan, dia sambil menyabda (memberi fatwa) bila suatu saat perkembangan jaman disini saya beri nama Njinggil (tanah yang lebih tinggi) hingga sampai sekarang disebut desa Njinggil diutara Jatinom. Akhirnya setelah beliau menyabda dengan nama kampung atau dukuh Njinggil, Kyai Ageng Gribig berjalan kaki ke pohon tersebut untuk bertapa dipohon jati tersebut hingga beberapa tahun lamanya. Lalu pada saat itu beliau menerima ilham atau wangsit atau mukjizat dari sang Maha Kuasa, yang berbunyi karena jati ini masih muda tebanglah untuk mendirikan masjid. Lalu beliau melkasanakan ilham tersebut yaitu mendirikan sebuah masjid dan sekaligus mendirikan sebuah desa yang diberi nama Jatinom (Jati enom) yang artinya jati muda.
Jatinom adalah nama suatu kecamatan di Kabupaten Klaten yang terletak pada jalur utama yang menghubungkan antara Klaten dan Boyolali. Di Jatinom setiap bulan sapar dalam penanggalan Jawa atau Islam diadakan sebaran apem atau Yaqowiyyu. Tradisi ini dilaksanakan pada hari Jum’at di bulan Sapar yang berada di masjid besar Jatinom. Orang Jatinom biasa menjadikan perayan ini sebagai ajang bersilaturahmi kesanak saudara. Pada saat itu setiap rumah membuat kue apem, yang nanti disajikan pada tamu yang datang. Tradisi ini konon bermula dari cerita tentang Kyai Ageng Gribig yang memberi kue apem kepada muridnya, tetapi jumlahnya hanya sedikit sehingga agar adil kue apem tersebut dilemparka ke muridnya untuk dibagi (Sumarta Sastra dan Indarjo: 1953). Bahwa asal usul cerita rakyat Kyai Ageng Gribig saat dakwah beliau sangatlah mengena pada masyarakat dan pada saat itu masih memeluk agama Hindu Budha. Syiar beliau tidak hanya di daerah Klaten saja tetapi menyebar luas sampai ke luar daerah Boyolali dan Surakarta. Kyai Ageng Gribig sangat pandai dalam Strategi dakwah, hingga masyarakat pada waktu itu masih kental dengan keyakinan pada pohon dan batu besar, menjadi beriman kepada Allah SWT. Keluhuran serta jasa beliau senantiasa terkenang dan melekat pada masyarakat terutama yang tinggal di Daerah Klaten dan Boyolali.
Banyak peninggalan-peninggalan beliau yang menjadi bukti sejarah bahwa Kyai Ageng Gribig adalah ulama besar yang berhasil dalam dakwahnya. Salah satu peninggalannya adalah Masjid alit Jatinom dan Masjid besar Jatinom yang dijadikan sebagai pusat belajar mengajar, serta tongkat beliau yang sampai sekarang dijadikan sebagai tongkat khotib ketika Sholat Jum’at dan juga kolam wudzu yang terletak 50 meter dari masjid. Selain peninggalan yang berupa benda, beliau juga meninggalkan tradisi ritual yang disebut perayaan tradisional “Ya Qowiyyu”. Hingga saat ini tradis tersebut tetapa berlangsung dan dihadiri oleh puluhan ribu jama’ah yang sebagian besar datang dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dan DIY. Kedatangan mereka pada acara tersebut biasanya diiringi dengan harapan agar mendapat apem (sejenis kue panggang terbuat dari tepung beras dan rasany manis) yang konon memiliki berkah kekuatan supranatural tertentu.
Perayaan “Ya Qowiyyu” pertama kali dilakukan Kyai Ageng Gribig yaitu setahun sekali (kalender Jawa) bulan Sapar, tanggal 12 keatas dan 20 kebawah yang jatuh pada hari Jum’at dan dilaksanakan 1 tahun sekali, sewaktu pelaksanaan atau puncak peringatan yaitu sehabis melaksanakan Sholat Jum’at, sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian nikmat Allah SWT. Rasa syukur itu diungkapkan dalam puji-pujian, berupa kalimat dala bahasa Arab “Ya Qowiyyu” yang artinya Allah Yang Maha Perkasa (Kuat). Kalimat itu dilafalkan berkali-kali akhirnya masyarakat menamai prosesi adat itu sebagi “Ya Qowiyyu” yang merupakan wujud sedekah berua makanan kepada masyarakat luas. Konon Kyai Ageng Gribig bersama Sultan Agung sering sholat tarawih dan jum’at di Mekkah. Suatu hari, sepulang dari tanah suci meraka membawa oleh-oleh tiga buah apem. Akan tetapi, karena jama’ah pada waktu itu sangtlah banyak maka tiga apem itu dicampurkan dalam apem yang dibuat sendiri untuk dibagikan oleh-oleh. Meskipun berkali-kali ditambah bahannya, akan tetapi jumlah Apem itu belum mencukupi jumalh jama’ah yang hadir. Akhirnya Kyai Ageng Gribig memutuskan untuk menyebar apem itu seusai sholat jum’at didepan masjid besar untuk diperebutkan. Siapa yang mendapatkan apem itu, merekalah yang mendapat berkah.
Sejak itu Kyai Ageng Gribig berpesan agar Jama’ah menyisihkan sebagian rejeki untuk bersedekah dan memberi makan pada orang miskin. Pesan itu diwujudkan dalam bentuk perayaan “Ya Qowiyyu” yang terus berlangsung sampai sekarang. Meskipun beliau sudah wafat tradisi “Ya Qowiyyu” masih tetap dilaksanakan bahkan dari tahun ke tahun, pengunjung yang datang dalam ritual tersebut makin banyak. Karena halaman masjid besar tidak bisa menampung pengunjung, maka beberapa tahun ini pemerintah setempat mengalihkan tempat perayaan kepinggiran sungai yang terdapat kolam. Kolam itulah yang konon adalah tempat wudzu Kyai Ageng Gribig beserta santrinya yang berjarak 50 meter dari masjid satu minggu sebelum perayan “Ya Qowiyyu” dibuka secara resmi, wilayah Jatinom memang tampak ramai oleh orang yang khusus datang untuk menyaksikan rangkaian perayaan tradisional yang sudah berlangsung turun temurun itu. Acara penyebaran apem diawali dengan pembacaan Tahlil dan Do’a serta acara ritual lainnya. Panitia menyediakan dua beton setinggi 4 meter luas 2x2  meter persegi sebagai pusat penyebaran apem. Sebanyak sepuluh orang di masing-masing menara yang mengenakan kaos putih ditugaskan melemparkan apem ke tengah-tengah kerumunan masa. Orang-orang mengacung-acungkan tangan mereka kearah menara agar tempat mereka berdiri di beri apem dan begitu apem jatuh kearah mereka tanpa sungkan-sungkan mereka saling dorong dan berebutan untuk mendapatkannya. Sering kali apem yang semula utuh dilantas hancur tatkala menjadi bahan rebutan. Ada yang kreatif menggunakan jaring yang diberi galah untuk menangkap apem yang berhamburan. Apem yang disebar dalam perayaan “Ya Qowiyyu” sampai saat ini seberat tiga ton. Begitulah tradisi “Ya Qowiyyu” yang digagas Kyai Ageng Gribig, yang sampai saat ini masih diyakini oleh masyarakat setempat sebagai perayaan yang mendatangkan berkah bagi kehidupan mereka.
B.     Nilai-nilai Dalam Cerita Rakyat Kyai Ageng Gribig
Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat Kyai Ageng Gribig adalah sebagai berikut :
1.      Nilai Keagamaan
Cerita rakyat Kyai Ageng Gribig merupakan gambaran pemasukan nilai-nilai agama dalam suatu masyarakat yang masih mempercayai adanya animisme. Cerita rakyat Kyai Ageng Gribig dalam konteks budaya memiliki arti penting sebagai dalam penyiaran agama Islam.
2.      Nilai Sosial
Dalam hal ini adalah moral yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Hal tersebut antara lain dapat dibina melalui pengajian atau ceramah mengenai agama Islam. Dimana isi atau inti pesan yang disampaikan adalah menganjurkan manusia untuk berbuat kebajikan. Selain pembinaan moral juga memantapkan aset budaya daerah yaitu dengan adanya upacara tradisional Yaqowiyyu dapat meningkatkan silaturahmi.
3.      Nilai Kepahlawanan
Kyai Ageng Gribig dikenang oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai manusia yang berjiwa besar dan besar pula jasanya dalam mengajak untuk beriman kepada Allah SWT.
C.    Fungsi Masyarakat Pemiliknya
Cerita rakyat atau juga yang disebut mitos yang hidup dalam suatu masyarakat memberikan manfaat atau fungsi bagi masyarakat tersebut. Bagi masyarakat yang mempercayai mitos, mitos berarti sesuatu yang benar dan menajadi milik mereka yang berharga, karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna dan menjadi contoh bagi kehidupan manusia. Itulah sebabanya mitos dianggap memberikan petuah bagi kehidupan masyarakat. Dan fungsi Cerita Kyai Ageng Gribig diantaranya adalah :
1.      Sebagai alat pencerminan angan-angan.
Cerita Kyai Ageng Gribig mencerminkan harapan dan keinginan masyarakat setempat untuk menajalani model kehidupan yang diidealkan dan ditampilkan dalam cerita lewat tokoh. Cerita Rakyat Kyai Ageng Gribig memiliki pesan moral yang ditujukan kepada masyarakat setempat agar meninggalkan kebiasaan memuja roh untuk kemudian beriman dan taqwa kepada Allah SWT.
2.      Sebagai alat pendidikan keagamaan.
Fungsi cerita rakyat Kyai Ageng Gribig sebagai alat pendidikan keagamaan yaitu pendidikan tentang aspek agama Islam, pendidikan dibidang politik yaitu politik dakwah Islam, pendidikan tentang seni budaya dan pendidikan sosial yang menurut agama Islam. Bahwa dalam cerita rakyat Kyai Ageng Gribig digambarkan sebagai tokoh yang taat beribadah, berusaha menyebarkan kebaikan untuk sesama dan mengajak manusia untuk meninggalkan budaya Atheis. Cerita rakyat Kyai Ageng Gribig menunjukkan sebagai fungsi alat pendidikan keagamaan melalui episode cerita pada saat Kyai Ageng Gribig membuka Jatinom yang dahulu berupa hutan dengan pertapaan dibawah pohon jati muda sehingga dinamakan Jatinom dan mendidik masyarakat Jatinom pada jalan Allah. Beliau senantiasa menyebut nama Allah SWT disetiap kesempatan dan jika akan melakukan kegiatan.    
3.      Sebagai pengawas agar norma-norma masyarakat dipatuhi.
Cerita rakyat Kyai Ageng Gribig tersirat adanya larangan dan aturan tentang yang harus dijalani manusia dan adanya anjuran kepada manusia hanya memohon kepada Allah SWT semata. Seperti diketahui konsep agama dipandang sebagai perangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia ghaib khususnya dengan Allah, mengatur hubungan manusia dengan manusia, mengatur hubungan manusia dengan lingkungan. Oleh karena itu cerita rakyat Kyai Ageng Gribig diceritakan dari generasi ke generasi adalah sebagai pengingat dan penggugah masyarakat untuk tidak meninggalkan agama.
4.      Sebagai alat kebudayaan.
Dengan adanya tradisi Saparan atau ”Ya Qowiyyu” dalam cerita rakyat Kyai Ageng Gribig di kecamatan Jatinom dilestarikan oleh masyarakat setempat dan dapat dijadikan budaya dalam setiap bulan Sapar masyarakat sekitar Jatinom sangat identik dan menjadi ciri khusus bahwa untuk  memperingati bulan Sapar, masyarakat membuat apem.
D.    Pelaksanaan Upacara Ritual-ritual Saparan
      Persiapan pelaksanaan upacara Saparan “Yaqowiyyu” dilaksanakan satu bulan sebelum perayaan Saparan. Diawali dengan pembentukan panitia khusus yaitu Pengelola dan Pelestari Peninggalan Ki Ageng Gribig Jatinom yang bekerjasama dengan instansi pihak terkait. Persiapan matang dari panitia terlihat pada satu minggu terakhir sebelum upacara penyebaran apem.
Upacara Saparan “Yaqowiyyu” dilaksanakan satu tahun sekali dalam kalender Jawa yaitu pada bulan Sapar pada hari Jumat. Dilaksanakan pada hari Jumat karena Ki Ageng Gribig juga melaksanakannya pada hari Jumat. Puncak acara ritual Saparan “Yaqowiyyu” adalah pada saat penyebaran apem usai sholat Jumat, dimulai jam 12.30 sampai dengan jam 14.30 WIB.
Tempat-tempat yang berkaitan dengan pelaksanaan Upacara Saparan “Yaqowiyyu” antara lain halaman Masjid Besar Jatinom untuk penyerahan gunungan apem dari Muspida kepada pengurus masjid. Gunungan apem kemudian dibawa ke kantor kecamatan untuk acara pembukaan upacara. Dimulai dari Kecamatan Jatinom dan berakhir di Masjid Besar Jatinom, Berbagai macam parade disuguhkan antara lain:
1.         Marching Band
Marcjing Band ini diisi dari Taman Kanak-Kanak Hingga Sekolah Menengah Kejuruan, berbagai macam gaya dan model.
2.         Reog
Seni tradisional dari budaya Indonesia yang bentuknya menyeramkan, biasanya berupa hewan, gambaran setan, dan lain sebagainya.
3.         Ondel-Ondel
Merupakan orang-orangan yang berbentuk sangat besar yang diadalamnya ada orang yang menjalanakanny, kalau di Betawi biasa digunakan untuk Khitanan, Perkawinan dan Acara Seni.
4.         Perkumpulan Pemuda dan Anak
Sekelompok anak kecil dan pemuda  yang berpakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia dan kebudayaan lainnya.
Masih banyak lagi pertunjukan-pertunjukan yang disuguhkan didalam acara pembukaan Saparan ini yang lebih menarik.
Diawali dengan mobil dari Kepolisian Sektor Jatinom dilanjutkan dengan arak-arakan dan juga dikawal sejumlah aparat dari Polres Klaten. Serta tak lupa pemotongan pita oleh beliau Bapak  Jaka Purwanta, S.Sos. MM selaku Camat Jatinom.
Dua hal ini dilakukan 7 hari sebelum penyebaran apem. Upacara kedua adalah penyerahan kembali gunungan apem ke Masjid Besar Jatinom untuk disemayamkan dua hari sebelum acara inti. Upacara ketiga atau upacara inti bertempat di sendang Klampeyan. Tempat yang digunakan Ki Ageng Gribig berdiskusi bersama muridnya tentang masalah fiqih. Setelah sholat Jumat selesai gunungan apem siap untuk dibawa ke sendang Klampeyan diiringi pemeran tokoh Ki Ageng Gribig, istrinya, para sahabat dan muri-muridnya.
Di sendang Klampeyan lah tempat penyebaran apem dilaksanakan setelah dido’akan. Lokasi sendang Klampeyan adalah di bawah pekarangan Masjid Besar Jatinom, dekat dengan sungai kecil. Apem disebar dari menara kandang apem. Ada pula acara-acara yang menyertai upacara Saparan ini antara lain acara ziarah ke makam Ki Ageng Gribig pada malam setelah pemotongan tumpeng, acara pembacaan Al-Qur’an dan tahlil pada malam sebelum penyebaran apem, dan yang tidak dilupakan adalah acara untuk membersihkan lingkungan makam dan daerah kampung, dilaksanakan 7 hari sebelum penyebaran apem. Apem merupakan perlengkapan inti pada upacara Saparan “Yaqowiyyu” di Jatinom. Pada mulanya apem tidak dibentuk seperti saat ini. Pada masa Ki Ageng Gribig apem hanya dibagikan seperti biasa.
Namun seiring berkembangnya zaman dan waktu apem ditempatkan pada panjang ilang yang terbuat dari janur (daun pohon kelapa yang masih muda) dan pada jodang yaitu tempat makanan yang terbuat dari kayu dan diukir. Pada saat ini jodang yang dulunya digunakan untuk tempat apem sekarang digunakan untuk kenduri yang dilaksanakan oleh mayarakat. Saat ini apem diletakkan pada tandu. Penggunaan panjang ilang tidak berhenti, namun dibuat lebih kecil sebagai pengantar dua gunungan apem menuju sendang Klampeyan. Kedua gunungan apem desemayamkan di pendopo utara Masjid Besar, sedangkan apem yang ditaruh di dalam panjang ilang disemayamkan di makam Ki Ageng Gribig. Apem dibentuk menyerupai gunung sehingga disebut gunungan. Ada dua gunungan yang biasa disebut sebagai gunungan lanang dan gunungan wadon. Hal ini menyimbolkan Ki Ageng Gribing dan Nyi Ageng Gribig.
Apem juga pernah berbentuk singa betina yang disebut Nyau Kopek dan ular betina yang disebut Nyai Kasur. Konon keduanya adalah binatang kesayangan Ki Ageng Gribig. Bentuk-bentuk apem yang terus berkembang ini hanya untuk menembah semarak dan meriahnya upacara ini. Apem yang dulunya dibuat oleh istri Ki Ageng Gribig, kini apem dibuat oleh masyarakat. Apem yang dibutuhkan sangat banyak hingga mendapat kiriman dari berbagai daerah yang masih termasuk ahli waris dari Ki Ageng Gribig.
Apem dikirim dari berbagai daerah seperti Tumenggung, Demak, Magelang, Pati, Yogyakarta dan Solo. Apem yang diperlukan pada upacara Saparan ini mencapai sekitar 4,5 ton kue apem atau sekitar 38 ribu kue apem. Penyusunan gunungan apem itu juga ada artinya, apem disusun menurun seperti sate 4-2-4-4-3 maksudnya jumlah rakaat dalam shalat isya, subuh, zuhur, ashar dan maghrib. Mereka (warga yang membawa apem tersebut) membawa pulang sepasang kue apem sebagai oleh-oleh. Perlengkapan lainnya adalah pakaian adat Solo-Yogya yang digunakan untuk memerankan tokoh Ki Ageng Gribig, Nyi Ageng Gribig dan pager ayu yang terdiri dari para sahabat, dan murid-muridnya. Tidak semua orang memakai pakaian itu, hanya orang-orang tertentu yang telah ditunjuk sebagai pemeran yang memakainya. Adapula ingkung dan tumpeng yang melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat Jatinom. Miniatur Masjid Alit yang dipercaya sebagai dalem Ki Ageng Gribig dan sebagai tempat pertama kali Ki Ageng Gribig menyebarkan agama Islam.
E.     Pentingnya Perayaan Upacara Saparan Bagi Masyarakat Jatinom
      Upacara Saparan “Yaqowiyyu” sangat penting bagi masyarakat Jatinom. Upacara ini bersifat sangat religius untuk mengenang jasa Ki Ageng Gribig yang telah membangun desa Jatinom sekaligus menyebarkan agama Islam disana. Upacara ini juga mempunyai nilai filosofi yang tinggi yaitu ajaran agar kita saling memaafkan. Ajaran ini diambil dari kata yang berasal dari Bahasa Arab “afwun” yang menjadi kata apem. Hal yang lebih penting dari perayaan ini bagi masyarakat Jatinom adalah melestarikan dan meluruskan sejarah yang sebenarnya. Sejarah mengenai Ki Ageng Gribig mempunyai beberapa versi yang kemungkinan ada penyelewengan sejarah. Selain itu upacara Saparan diadakan agar tradisi ini tetap berjalan turun-temurun lintas generasi, sehingga tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Upacara saparan “Yaqowiyyu” merupakan tradisi atau adat kebiasaan yang berlaku sehingga masyarakat mempunyai kepercayaan yang kuat dan tidak berani untuk meninggalkannya. Upacara Saparan “Yaqowiyyu” juga dianggap membawa berkah bagi masyarakat. Tak heran jika masyarakat memperebutkan apem yang disebarkan di sendang Klampeyan tersebut. Alasan lain yang mendukung upacara ini tetap dilaksanakan yaitu adanya dorongan dari pemerintah daerah Klaten, dianggap menguntungkan karena akan lebih memperkenalkan kebudayaan Klaten di ranah Indonesia. Alasan-alasan tersebut merupakan alasan warga tentang pentingnya perayaan upacara saparan bagi masyarakat Jatinom.
F.     Keyakinan-Keyakinan /Kepercayaan Yang Melekat Pada Ritual Upacara Saparan
Upacara Saparan “Yaqowiyyu” adalah upacara yang berinti memberi do’a. Do’a awalnya dari Ki Ageng Gribig yang memohon kepada Allah agar memberikan kekuatan kepada santrinya dan kepada masyarakat. Do’a itu dilantunkan pada saat sebelum penyebaran apem dimulai. Kata “Yaqowiyyu” dalam do’a ini yang digunakan untuk menyebut acara ini. Upacara ini mempunyai dampak menyebarnya agama Islam di desa Jatinom. Berbeda dengan sudut religi dalam pandangan santri, nilai religi bagi masyarakat Kejawen adalah kekramatan tempat-tempat peninggalan atau petilasan Ki Ageng Gribig. Mereka percaya bahwa Ki Ageng Gribig sakti maka mereka bersemedi di makammnya atau di tempat peninggalannya dengan harapan dapat membawa berkah.
Cara bersemedi dengan membakar kemenyan dan melantunkan do’a yang menjadi keinginannya serta menabur bunga di makam Ki ageng Gribig. Bagi masyarakat Kejawen adanya kepercayaan dan anggapan adanya berkah dari perebutan apem yang disebarkan merupakan nilai yang paling penting. Tak heran jika mereka merebut apem semampunya dan bahkan ada yang memungut bagian-bagian kecil dari apem yang disebarkan.
Mereka mempunyai kepercayaan bahwa kue apem yang disebarkan dan dilantunkan do’a sebelum penyebarannya pasti bertuah. Mereka datang dengan tujuan tertentu saat akan merebut kue apem, tujuan mereka misalnya:
a.    Para petani merebut kue apem dengan tujuan akan dijadikan tumbal pada sawah ladang mereka agar sawah ladang mereka subur dan jauh dari gangguan hama.
b.   Apem digunakan sebagai penjaga rumah. Warga melakukannya dengan cara menggantungkan kue apem tersebut pada pintu rumah. Hal ini dilakukan agar terhindar dari perbuatan jahat.
c.    Pedagang menggunakan apem sebagai pelaris dan agar terhindar dari kerugian.
d.   Pelajar yang masih mempercayai adanya hal bertuah menggunakan apem sebagai pelancar dalam belajar.
Masyarakat yang mendapat banyak apem pada saat perebutan biasanya akan mengadakan pertunjukan wayang kulit atau pertunjukan lainnya, sehingga menambah keramaian kota. Sapar termasuk salah satu bulan yang dirayakan oleh umat Islam di Indonesia. Al-Qur’an memang tidak mengharuskan umatnya untuk merayakan bulan itu, namun orang-orang Indonesia melaksanakan upacara peringatan agama merupakan unsur ungkapan terima kasih atau rasa syukur. Hal ini juga merupakan tujuan dari upacara Saparan “Yaqowiyyu”.



Post Popular

Makalah Maulid Nabi Muhammad SAW 1

MAULID NABI MUHAMMAD SAW Diajukan untuk memenuhi   s alah satu tugas m ata p elajaran Sejarah Kebudayaan Islam ...